Melukis sebenarnya bukan dunia baru bagi Moel. Dunia ini telah di-angankannya sejak kecil. Ketika Moel duduk di Sekolah Dasar gurunya me-ngetahui bakatnya dalam hal menggambar. Sang Guru lantas menyarankan Moel untuk mengambil sekolah menggambar. Sayang, saran gurunya itu tidak direstui ayahandanya. “Mana ada sekolah menggambar bisa dapat uang untuk hidup?”, cerita Moel menirukan kata-kata ayahandanya saat itu.
Moel melanjutkan ceritanya:
“Larangan ayah itu kemudian menyurutkan niat saya mendalami menggambar….Syukur saya punya hobi menjahit baju. Di sini saya harus terampil membuat pola-pola, skets, bentuk, memilih warna dan motif kain, agar sesuai dengan fungsi dan cocok dengan yang memakainya. Pertimbangan komposisi, harmoni, atau keserasian selalu muncul pada saat saya merancang busana….Di sinilah bakat saya menggambar mendapat saluran yang berguna. Tanpa bakat menggambar, saya kira agak susah maju dalam dunia jahit-menjahit busana. Mungkin kalau tidak berbakat hanya bisa sampai pada trampil teknik menjahitnya, tetapi tidak kreatif. Tidak bisa menciptakan desain sendiri. Dan untuk menciptakan desain sendiri harus bisa memvisualisasikan dalam bentuk gambar….akhirnya ketrampilan menggambar amat diperlukan”
Dunia tata busana sebenarnya tidak jauh amat dengan dunia seni lukis, atau seni rupa pada umumnya. Tata busana lebih menekankan penjelajahan pada fungsi pakai, selain juga mempertimbangkan hal estetis. Sementara, seni lukis lebih menekankan penjelajahan pada kebebasan ekspresi tanpa mempertimbangkan fungsi pakai, dengan tetap mempertimbangkan capaian estetis dan artistik. Seni lukis merupakan penjelajahan personal yang bebas, untuk menggapai sebuah unikum daya cipta. Unikum itu mengisyaratkan sebuah pemikiran atau gagasan yang dibangun dari kejujuran dan idealisme pelukisnya.
Dunia yang unik dan personal itu baru ditemukan kembali ketika usia Moel telah melewati 55 tahun. Dunia baru ini dikatakannya sebagai anugrah Tuhan pada dirinya. “Saya merasa telah menjadi diri saya sendiri, ketika saya memasuki dunia seni lukis”, kata Moel pada suatu obrolan di sebuah rumah makan di depan kawasan Pondok Blimbing Indah, Malang.
Pada saat menceritakan hal ini, wajah Moel tampak berbinar, bicaranya renyah, dan terasa sekali dia mensyukuri apa yang dia dapatkan saat ini.
Diambil dari buku “Moel Soenarko: Pelukis Realis – Humanis” Karya Djuli Djatiprambudi




