rahacreate@gmail.com

tangan

lemah lunglai sayap dan belalaimelekuk tungkai, mendera asa menggapaimengisi landskap indah ‘tuk dituaikuingin merubah takdir illahimewarna kehidupan yang penuh artikuasah mata dan kuas jarikukejar cahaya pemberi artikutemukan dirumah seni moelsoe, 2010   Selengkapnya dapat dibaca di buku “Nyanyian Sunyi” Karya Moel Soenarko

tangan Read More »

menuai

sebuah perjalanan selalu dimulai ujung awal dan berhenti di ujung akhir berpikir bukan di penghujung akhir baru berpikir cara mengukur langkah mengukir kadang baru bisa kita sadari, jawaban ditemukan, namun maut tidak menanti usai   kesempatan itu yang di atas yang mengaturnya kesempatan pertama adalah emas, milik kita kesempatan kedua belum tentu datang dia yang

menuai Read More »

kemuning pagi

kemuning pagiterpana aku menundukputih bersihsekuntum kemuning pagitegak diatasdahan kecil merona bentuk putih wangi tumbuh sendiriwalau dari setitik bijitanpa menyebut siapa dirikita tahu, kita lihat engkau adalah kemuning pagi terpana aku merenungakan pelajaran yang kau berikan untuk diri dari bunga iniyang butuh akan pangkuan tak cukup hanya berkatatak cukup hanya mencelatak cukup hanya merontahanya berbuatlah jawaban

kemuning pagi Read More »

janji 90

kata-kata dipilin jadi tali ucapandijalin erat jadi bukit harapandihampar luas jadi lautan impianditerbangkan angin jadi topan kepastian Bersaudara ‘bak simpul darah berperekatseibu dan sebapak tertanam dibebat eratwalau terpisah dan tersembunyi di bukit berurat setiap perjumpaan terukir janji mengulang dekat air dicencang tak putus, pacung abu tak berbekas tali keluarga tak akan hilang ditelan perselisihan tak

janji 90 Read More »

selalu aku

selalu aku yang kau ingat “bereskan adikmu yang sakit” “belanja ke pasar hari ini” “kirimkan paket ke kantor pos” “antarkan rantang ke pelanggan”   selalu aku yang kau ingat “antarkan kopi ke kamar tiduribu” (bulan ramadhan) “naik sepeda membeli es batu ke bim” (bulan ramadhan) (sedang saudara-saudaraku) tidur lesu   selalu aku yang kau ingat

selalu aku Read More »

kenangan

mengenang kegagalan meraih harapan, selalu diam membuntuttak semudah menarik napas meniup lilin menurutseperti ingin menulis kehabisan tinta seperti mencari air musim kemarau panjang tibawaktu menyeret kesempatan emas terhempas luput mengenang kegagalan bagai pantaimerindukan gelombangtak semudah menebar jala mendekap ombak seperti menjangkau buah di ujung rantingseperti sungai mengalir tak menemukan muarakeganasan angin dan badai menggulungangan-angan sulit

kenangan Read More »

penjahit kilat

masih melekat embun pagi, menutupi jalan cihampelasmasih sepi suara bising mobil melintasmasih tertutup rapat pintu toko tempat kau merantas mesin jahit itu tegar menunggu yang akan ditindas penjahit ini hampir tanpa senyum menyapa ditemani benda kusam kehilangan warnaberkalung meteran senjata utamanyadilengkapi gunting, pisau, minyak melancarkan kerjanya waktu terentang, mutu menghadang persaingan kesempatan mencuri peluang jahitan

penjahit kilat Read More »

Representasi dan Identitas Perempuan

Karya-karya lukisan Moel memiliki nilai dokumentasi yang kuat. Dengan mengangkat tema warisan budaya (heritage), lukisan-lukisannya membangkitkan kembali kesadaran akan sejarah masa lalu yang kerap terlupakan. Melalui goresan kuasnya, Moel menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap jejak-jejak sejarah, serta mengajak penikmat seni untuk lebih mengapresiasi dan meresapi pesona masa lampau. Lebih dari sekadar rekam jejak sejarah,

Representasi dan Identitas Perempuan Read More »

Dua Masa: Menggali Masa Depan dan Warisan

Selain suka melukis tentang kehidupan, Ibu Moel juga senang menggambar bangunan-bangunan tua yang ada di kota-kota. Ia menemukan gambar-gambar bangunan itu dari kartu pos, majalah, foto, atau ia memotret sendiri bangunan-bangunan tersebut. Moel tertarik melukis bangunan tua karena menurutnya, bangunan itu menyimpan banyak cerita dari masa lalu. Ibu Moel pernah bercerita:   “Ketika saya sedang

Dua Masa: Menggali Masa Depan dan Warisan Read More »

Menjadi Seorang Pelukis

Melukis sebenarnya bukan dunia baru bagi Moel. Dunia ini telah di-angankannya sejak kecil. Ketika Moel duduk di Sekolah Dasar gurunya me-ngetahui bakatnya dalam hal menggambar. Sang Guru lantas menyarankan Moel untuk mengambil sekolah menggambar. Sayang, saran gurunya itu tidak direstui ayahandanya. “Mana ada sekolah menggambar bisa dapat uang untuk hidup?”, cerita Moel menirukan kata-kata ayahandanya

Menjadi Seorang Pelukis Read More »