mengenang kegagalan meraih harapan,
selalu diam membuntut
tak semudah menarik napas meniup lilin menurut
seperti ingin menulis kehabisan tinta
seperti mencari air musim kemarau panjang tiba
waktu menyeret kesempatan emas terhempas luput
mengenang kegagalan bagai pantai
merindukan gelombang
tak semudah menebar jala mendekap ombak
seperti menjangkau buah di ujung ranting
seperti sungai mengalir tak menemukan muara
keganasan angin dan badai menggulung
angan-angan sulit digapai
“matamu hanya menatap jauh, mengharap
kapal berlabuh ke pantai, menurunkan
muatan angin harapmu”
bagai berjalan meniti buih, berlayar di bilah pedang
“barangkali aku harus menggali dan membangun waktu, untuk
mencari arti kenangan, sekaligus mengenali harapan
dapat mengartikan rasa getar gemetar di diriku,
meniup api pertarungan perang ketangguhan,
dapat berdamai menerima kenyataan”
moelsoe, 2014
Selengkapnya dapat dibaca di buku “Nyanyian Sunyi” Karya Moel Soenarko




