Benang Kenangan di Tepi Martapura

Bagian I

Disehelai kain belacu yang berukuran 32 x 240 cm, penuh dengan sulaman yang bercerita tentang kenangan masa kecil seorang anak perempuan berusia 5 tahun, rumahnya di tepi sungai Martapura (Banjarmasin, Kalimantan Selatan) tempat dia dilahirkan.

Suara dayung menyentuh dinding perahu, memecah keheningan subuh di pagi hari. Air bernyanyi, mendorong kabut menepi, bagaikan musik sedang merajut hari. Halaman rumah berpagar beluntas dan berderet tanaman bunga seperti bunga kaca piring putih, bunga cempaka kuning kehijauan, bunga sepatu berwarna merah, kuning dan lila muda. Sedangkan diluar pagar depan rumah berdiri kokoh pohon tanjung berbunga putih yang harum bagaikan mercusuar penjaga sungai nan sibuk.

Wangi dan indahnya bunga yang bermacam-macam, serta panorama alam disekitar saat itu terukir erat dalam ingatan, perasaan, keinginan dan semangat untuk diabadikan dalam sehelai kain. Disulam dengan benang warna-warni bahkan dipadukan dengan cat air untuk awan, air, tanah dan pepohonan hijau yang menyegarkan.

Dinding rumah dari papan, daun rumbia dan bambu. Sedangkan atap-atap dari ijuk, sirap atau genteng diciptakan dengan tekhnik sulam alam Indonesia sesuai dengan kenangannya. Berharap terpancar gambar perjalanan kehidupan yang telah dilewati dari sepotong waktu yang berlalu.

Dikerjakan dengan kesabaran, terus menerus, dalam kesendirian, hening dan sunyi. Kekhawatiran akan kehilangan kenangan indah itu, maka dirawatlah hobby yang dipilihnya dengan penuh kecintaan, berharap suatu saat akan ada seseorang yang mengerti akan indahnya seni sulam tangan ini. Kesenangan menyulam selalu mengikuti dirinya hingga kini bagaikan nafas yang menghidupi.

Bagian II

Mengenal benang kala berusia 11 tahun dari pelajaran merenda di Sekolah Dasar Banjarmasin. Takkan pernah terlupakan saat pertama kali membeli benang renda di pasar terapung, terlihat air sungai dari celah-celah lantai papan, dirasakannya lantai bergoyang, gelombang datang dari perahu motor yang melintas. Dipilihnya benang warna merah muda kemudian dihirupnya wangi benang yang baru, menorehkan kebahagiaan tersendiri di hatinya. Sifat ingin tahu untuk apa ilmu itu diajarkan, maka dibeli lah satu stel pakaian bayi dari benang renda kemudian dipelajari, dicontoh dan dibuat. Lalu dijual kembali ke toko asalnya dia membeli. Setelah itu barulah ditemukan pembuktian bahwa keterampilan itu bisa menghidupi sebuah kehidupan.

Bola pingpong yang terpukul terbang ke samping rumah tetangga mengenai tante Yuzar yang sedang menyulam, inilah awal menemukan jalan “bisa menyulam” dengan pasti karena ada buku panduannya (majalah wanita berbahasa Belanda) yang dipinjamkan tante Yuzar sembari berpesan “segera menyulam!”. Awalnya mencoba menyulam di sehelai kain ukuran 20 x 150 cm untuk mengenal stitch (tusukan). Lalu dipraktikkan penggunaannya di lembaran kedua ukuran 32 x 240 cm untuk menyulam bentuk-bentuk yang mengingatkan masa kecilnya.

Kelak kedua helai kain panjang yang penuh dengan sulaman ini dijadikannya alat peraga untuk diajarkan. Mengejar cita-cita untuk menjadi guru keterampilan wanita dengan perpegang pada motto ciptaannya yaitu “Biar kecil tetapi pasti”. Kenangan akan ibunda yang hobby membatik dan menjahit dan selalu mengatakan “meyakini keterampilan yang terus menerus dirawat dan diasah, menciptakan senjata ampuh yang dapat mendatangkan pemasukan ekonomi untuk kehidupan”.

Cerita ini diambil dari buku “Embroidery: Creation of Art” Karya Moel Soenarko

Video

Embroidery untuk Pemula

Pendahuluan Kebebasan menggambarkan inspirasi yaitu mengungkapkan apa yang dilihat, menyajikan apa yang diketahui, mengekspresikan apa yang dirasakan, menciptakan ilmu sulam

Read More »